Arsip | ARTIKEL RSS feed for this section

KISAH SEORANG JANDA DAN ANAK YATIM PEMBAWA BAROKAH

29 Jul

Ada kisah tentang anak yatim dan janda pada sebuah hadist, dimana perlu kita renungkan bersama. Dalam kisah tersebut diceritakan ada seorang janda dan beberapa anak perempunnya yang masih keturunan Alawi.

Suatu ketika, janda tersebut membawa anak-anaknya pergi untuk mengungsi karena khawatir mendapat perlakuan tidak baik dari musuh. Ia memasukkan anak-anaknya ke dalam masjid yang kosong, karena cuaca begitu dingin saat itu. Melihat anak-anaknya yang kelaparan maka ia keluar masjid untuk mencari makanan.

Di tengah perjalanan dia bertemu seorang Syaikh muslim yang terkemuka di daerahnya. Dia pun menceritakan apa yang kini dialaminya dan anak-anaknya. Namun, sangat disayangkan bukan belas kasih dan bantuan yang ditawarkan tetapi permintaan akan sebuah bukti bahwa janda tersebut adalah keturunan Alawi.

Wanita itu pun menjawab bahwa dirinya hanyalah seorang yang merantau dan belum mengenal seorang pun di daerah tersebut. Akhirnya, Syaikh itu pun pergi meninggalkannya karena sang wanita tak mampu menunjukkan bukti dan saksi bahwa dia adalah keturunan Alawi dan anak-anaknya benar seorang anak yatim.

Wanita itu pun melanjutkan perjalanannya, dan ia bertemu kembali dengan seorang muslim Majusi. Sama halnya ketika dia bertemu dengan Syaikh tadi, dia pun menceritakan keadaanya pada seorang Majusi itu. Tak disangka, ternyata orang Majusi tersebut menyuruh istrinya untuk menjemput para anak yatim keturunan dari janda tersebut untuk dibawa ke rumah mereka. Janda dan anak-anaknya tersebut dimintanya untuk tinggal serta diberi pakaian dan makanan yang cukup.

Syaikh Muslim yang tak peduli dengan wanita itu mendapati mimpi yang mencengangkan. Mimpinya seolah menggambarkan ketika kiamat terjadi. Dalam mimpinya ia melihat gedung yang begitu indah,dengan rangkaian berlian yang menyilaukan.

Kemudian Ia pun bertanya pada Rasulullah SAW: “Untuk siapakah gedung ini?”

kemudian Rasulullah SAW bersabda: “Untuk orang muslim yang bertauhid.”

Lalu syaikh ini menjawab: “Saya muslim yang bertauhid.”

Rasulullah SAW berkata: “Kemukakan bukti dan saksi bahwa engkau adalah seorang muslim yang bertauhid.”

Syaikh ini kebingungan, lantas Rasulullah SAW bersabda: “Sebagaimana ketika engkau didatangi seorang janda Alawi,engkau meminta bukti dan saksi padanya, maka sekarang engkau buktikan bahwa engkau benar seorang Muslim!”

Syaikh ini pun terbangun dari mimpinya dan ia sangat sedih serta menyesal karena telah menyianyiakan janda Alawi tersebut.

Keesokan harinya Syaikh ini sibuk berkeliling mencari wanita dan anak yatim Alawi tersebut. Hingga akhirnya dia diberitahu bahwa wanita Alawi beserta anak-anaknya tersebut tinggal di rumah seorang Majusi. Syaikh ini pun mendatangi orang Majusi tersebut dan meminta agar menyerahkan janda dan para anak yatim tersebut pada dirinya.

Bahkan Syaikh itu pun berkata akan membayar seribu dinar untuk mendapatkannya. Namun, orang Majusi tersebut menolak dan tak ingin menyerahkannya. Semua itu karena mimpi yang mendatanginya semalam, mimpi yang memperlihatkan sebuah gedung yang sama dalam mimpi Syaikh tersebut.

Majusi itu berkata: “Gedung yang kau lihat itu dibangun untukku. Janda itu telah menunjukkanku pada Islam. Demi Allah,tidaklah aku tertidur tadi malam,melainkan aku dan keluargaku telah masuk Islam diatas tangan perempuan yang mulia ini.”

Syaikh ini berpaling sambil membawa rasa kecewa yang ukurannya tidak diketahui kecuali oleh Allah SWT, karena telah menyiakan pintu surge yang dibawa oleh seorang anak yatim.

Iklan

SEDEKAH ANAK YATIM UNTUK TABUNGAN MASA DEPAN ANDA

26 Jul

Kita memang tidak bisa hidup sendirian. Kita hidup berdampingan dengan orang lain dan terkadang kita tidak tahu apa yang seharusnya kita lakukan untuk orang lain. Kita hanya memikirkan kepentingan kita sendiri dan kita hanya mencari peruntungan untuk memperkaya diri kita sendiri.

Ini waktu yang sangat tepat bagi anda untuk mulai memikirkan orang lain. Anda sudah harus memulai memikirkan kehidupan anda yang akan datang dengan Sedekah Anak Yatim. Memberikan sedekah kepada anak-anak yatim sangat berguna bagi anda dan banyak sekali manfaat yang akan anda dapatkan ketika anda bersedekah kepada orang lain yang membutuhkan.

Anda tentu tahu bahwa bersedekah akan membuat kita menabung sebuah kebaikan dan kita akan mendapatkan pahala. Banyak cara untuk bersedekah terutama kepada anak-anak yatim piatu.

>>> Cara Sedekah Anak Yatim Yang Baik

Anda tentu tahu jika anak yatim adalah anak-anak yang tidak punya bapak. Sedangkan piatu adalah anak-anak yang tidak punya ibu. Anda harus menyisihkan uang anda untuk membantu mereka. Banyak cara untuk mulai bersedekah kepada mereka. Anda bisa memberikan Sedekah Anak Yatim dengan berbagai hal untuk mereka seperti:

[1] Makanan dan Uang

Jika anda berkunjung ke panti asuhan, anda bisa membawa beberapa makanan instant yang berguna bagi mereka. Anda juga bisa bersedekah uang. Uang sangat penting dan bisa digunakan untuk kebutuhan sekolah mereka.

[2] Peralatan Sekolah dan Baju

Baju dan peralatan sekolah juga sangat penting bagi mereka. Mereka terkadang tidak punya cukup uang untuk membeli peralatan sekolah dan baju sekolah. Anda bisa bersedekah dalam bentuk barang. Sedekah tentu tidak selalu berbentuk uang.

>>> Waktu-waktu untuk Sedekah Anak Yatim

Anda bisa Sedekah Anak Yatim di waktu-waktu yang tepat. Sebenarnya anda bisa melakukan sedekah kapanpun anda maui tetapi ada beberapa waktu yang sangat baik untuk bersedekah seperti:
[1] Setiap anda memiliki Hajat untuk urusan anda, selama itu untuk hal-hal yang tidak dilarang Agama.
[2] Setiap Hari Jum’at
[3] Lebaran Anak Yatim
[4] Pada bulan puasa
[5] Pada hari-hari besar seperti Hari Raya Idul Fitri

Tidak ada salahnya ada menyisihkan sebagian penghasilan dari anda untuk bersedekah. Semua harus berawal dari niat yang baik sehingga anda akan mendapatkan pahala yang berguna bagi masa depan anda didunia ini dan di akhirat nanti.

DOA YANG TERKABULKAN

24 Jul

Pada suatu hari, seorang anak yatim sedang beijalan menuju pasar dengari sekeranjang buah-buahan. Di tengah jalan, dia bertemu perampok.

Pada suatu hari, seorang anak yatim sedang beijalan menuju pasar dengari sekeranjang buah-buahan. Di tengah jalan, dia bertemu perampok.

“Hei, kemarikan Ibuah-buahanmu,” kata perampok dengan kasar.

“Jangan Tuan, buah-buahan ini adalah barang daganganku. Aku akan menjualnya di pasar,” kata anak yatim itu ketakutan.

“Hah, malah membantah. Aku tidak peduli! Aku harus mendapatkan apa pun yang aku mau,” bentak si perampok.

“Jangan. Jika Tuan mengambilnya, aku akan kehilangan mata pencaharian untuk menafkahi diriku,” si yatim mulai menangis.

“Memangnya itu urusanku?!”

“Orangtuaku telah meninggal, Tuan. Aku hidup sendiri. Aku anak yatim. Kasihanilah aku.” Anak yatim itu memohon.

Si perampok tetap mengambil buah-buahan di tangan anak yatim.

“Buah-buahan ini sungguh segar, aku menginginkannya.”

“Jika kau mau, aku akan memberinya, satu atau dua buah.”

“Aku ingin semuanya,” kata perampok. Lalu dia pun merampas keranjang buah dari tangan anak yatim dan berlalu.

Anak yatim itu menangis tersedu-sedu, “Ya Allah, Kau Maha Mendengar doaku. Kau Maha Mengetahui apa yang dilakukan umat-Mu. Sungguh zalim perampok itu pada anak yatim sepertiku. Tolonglah aku…”

Malaikat mendengar doa anak yatim itu dan mengamininya. Allah marah kepada orang yang tidak mengasihi dan menyiksa anak yatim. Allah menginginkan semua umat memperlakukan anak yatim dengan lembut dan tidak bersikap angkuh. Doa anak yatim adalah doa yang sampai ke hadirat Allah, tanpa satu pun yang dapat menghalanginya.

Pada saat perampok itu sedang menikmati hasil rampokannya, tiba-tiba angin bertiup dengan sangat kencang sehingga memorak-porandakan keranjang buah- buahannya. Bahkan, angin itu membuat pohon yang menjadi tempatnya berlindung bergetar. Perampok itu akhirnya mati tertimpa pohon.

Doa anak yatim itu didengar oleh Allah.

 

Seburuk-buruknya perbuatan kaum Muslimin adalah ketika dia memperlakukan anak yatim dengan perlakuan yang buruk.

 

MULIAKAN RAMADHAN DENGAN MENYANTUNI ANAK YATIM

7 Jul

>> Keutamaan Menyatuni Anak Yatim

Anak yatim adalah anak yang sudah tidak memiliki ayah (karena wafat), yang menjadi tumpuan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya baik secara lahir maupun bathin. Anak yang secara psikologis dipaksa untuk bisa bertahan dalam menghadapi kehidupan, dan  ia tidak mampu karena lemah serta belum siap baik secara fisik ataupun mental. Mereka adalah manusia-manusia yang membutuhkan orang lain, membutuhkan kasih sayang, pembinaan, bimbingan, perhatian, uluran tangan, perlindungan seperti yang didapatkan oleh anak-anak seusia mereka dari ayahnya. Mereka butuh penganti ayahnya yang sudah tiada.

Apabila anak yatim menangis maka terguncanglah ‘arsy Allah Ta’alaa karenanya, sehingga Allah Ta’alaa menyeru kepada malaikatnya “Apa yang menyebabkan anak itu menangis setelah ayahnya dikuburkan ?”, para malaikat berkata “Wahai Rabb, Engkau lebih Tahu apa yang terjadi”, maka Allah Ta’alaa berfirman kepada para malaikat : “Wahai malaikat-Ku, saksikanlah bahwa barang siapa yang bisa menghentikan tangisan dan menyayangi mereka, maka Aku akan menyayangi (ridha) padanya di hari kiamat” (Tafsir Al Qurthuby 2/3338).

Rasulullah saw juga bersabda “Aku akan bersama orang-orang yang menyantuni anak yatim, di Surga akan seperti ini (beliau mengisyaratkan dengan telunjuk   dan jari tengah serta menggandengkannya)”(HR. Bukhari).

Kebutuhan kita akan karunia  Allah Ta’alaa lebih besar dibandingkan dengan kebutuhan anak yatim terhadap sedekah atau kebaikan kita kepadanya. Mungkin apa yang kita berikan tidak sebanding dengan yang kita akan dapatkan. Dengan demikian kita akan lebih membutuhkan anak yatim dari pada kebutuhan anak yatim terhadap kita.

 

>> Para Salafus Shalih Menyantuni Anak Yatim

Mengusap kepala anak yatim memiliki dua makna, yang pertama secara hakiki yaitu makna yang sebenarnya, dan  yang  kedua   secara maknawi,  artinya  menyatuni, menjamin, memberikan perlindungan dan mem-perlakukannya seperti anak sendiri. Imam Qatadah menyatakan, “Jadilah orang tua yang penyayang bagi anak yatim”. Keadaan Ibnu Umar ra, apabila melihat anak yatim beliau mengusap kepalanya dan memberikan sesuatu kepadanya. Dan Imam Bukhari meriwayatkan bahwa Abdullah tidak pernah makan suatu makanan kecuali di sekitar meja makanannya ada anak yatim. (Shahih Adabul Mufrad / 136).

Menyayangi mereka seperti anak sendiri, karena itulah kebutuhan mereka yang sesungguhnya, sesorang harus berpikir bagaimana kalau seandainya ia meninggal, bagaimana anak-anak yang ditinggalkannya, anak-anak (yatim) itu adalah anak mereka ?. Tentu ia berkeinginan ada orang yang bisa menggantikan fungsi sebagai orang tua untuk anak-anak yang ditinggalkannya.

Menyayangi atau menyantuni anak yatim bukan berarti harus selalu dielus-elus atau selalu memanjakannya dan memenuhi segala keinginannya, akan tetapi memperlakukannya dengan adil ketika melakukan kesalahan sebagaimana memperlakukan anak sendiri. Ibnu Sirrin pernah ditanya tentang anak yatim, maka beliau berkata “Perlakukanlah dia seperti engkau memperlakukan anakmu, pukulah dia seperti engkau memukul anakmu”. Pukulan yang diperkenankan adalah pukulan yang bersifat mendidik atau memberikan pendidikan, bukan pukulan yang membabi buta.

 

>> Ramadhan Bulan Sedekah

Ramadhan adalah bulan kebaikan, bulan beramal sholeh, bulan sedekah dan semua amal-amal kebaikan lainya. Bulan dilipat gandakan pahala, termasuk di antaranya pahala sedekah, maka Rasulullah saw  bersabda “Sedekah yang paling utama adalah sedekah pada bulan Ramadhan”. (H.R. Tirmidzi).

Sedekah adalah amalan utama yang pahalanya akan dilipat gandakan Allah Ta’alaa sampai dengan tujuh ratus kali lipat, dan lebih utama serta lebih dilipat gandakan lagi pahalanya apabila sedekah tersebut diberikan pada bulan Ramadhan, karena mulianya bulan tersebut.

Kalau konteksnya sedekah dengan anak yatim,  adalah sebagaimana yang dilakukan oleh para salafus salih sebagaimana tergambar diatas, menjadi orang tua asuh bagi mereka dengan memberikan jaminan kehidupan mereka, baik secara fisik, mental dan spiritual. Sedekah untuk memenuhi kebutuhan fisiknya yaitu memberinya makan, sebagaimana yang dilakukan oleh sahabat Ali bin Abi Thalaib ra. Sedekah untuk memenuhi mentalnya yaitu menyayangi mereka sebagaimana menyayangi dan memperlakukan anak kita sendiri. Sedekah untuk memenuhi spiritualnya yaitu membina dan mendidik mereka dengan aqidah, ibadah dan akhlak yang baik.

Memberi makan kepada orang yang sedang lapar adalah perbuatan yang utama, sebagaimana sabda Rasulullah saw : “Mukmin yang mana saja yang memberi makan kepada mukmin yang lainnya yang sedang lapar maka Allah SWT akan memberinya makanan berupa buah-buah dari surga …” (HR. Tirmidzi / Hasan).

Sedekah akan efektif ketika dikeluarkan pada waktu dan sasaran yang tepat, sedekah yang bisa meraih banyak keutamaan dan pahala, sedekah yang diberikan pada bulan mulia (Ramadhan), sedekah yang dikeluarkan untuk menghilangkan rasa lapar dan haus dari orang-orang mukmin yang shaum, sedekah yang bisa mengenyangkan dan menyenangkan anak-anak yatim.

Tetapi semuanya itu berpulang kepada kita, bagian mana dari sedekah kepada anak yatim tersebut yang bisa kita ambil,  apakah untuk memenuhi kebutuhan fisiknya, atau mentalnya atau spiritualnya ?

 

KISAH KEAJAIBAN SEDEKAH, KEAJAIBAN DOA ANAK YATIM

3 Jul

Bismillah, semoga artikel tentang keutamaan sedekah disertai bukti nyata adanya keajaiban setelah bersedekah bisa bermanfaat untuk kita semua. Kisah Nyata ini diambil dari Buku “Kun fayakun 2″ yang dibuat oleh Ust Yusuf Mansur dalam bab Kisah Keajaiban Sedekah. Kisah nyata ini terjadi di daerah Jawa.

Suatu hari, seorang lelaki tengah mengandarai vespanya. Entah mengapa dia pun bertanya karena tak kunjung bunyi. “Jangan-jangan bensinnya habis,” . Ia pun kemudian memiringkan vespanya, cara yang biasa dilakukan pemilik vespa dimanapun. Alhamdulillah… vespanya itu bisa distarter.

“Bensin vespa hampir habis. Langsung ke pengajian atau beli bensin dulu ya? Kalau beli bensin kudu muter ke belakang, padahal pengajiannya di depan sana,” demikian kira-kira kata hati lelaki itu. Ke mana arah vespanya? Ia arahkan ke pengajian. “Habis ngaji baru beli bensin.”

Ma naqashat maalu ‘abdin min shadaqah, bal yazdad, bal yazdad, bal yazdad. Tidak akan berkurang harta karena sedekah, bahkan ia akan bertambah, bahkan ia bertambah, bahkan ia bertambah,” kata Sang Kyai di pengajian itu, yang ternyata membahas sedekah.

Setelah menerangkan tentang keutamaan sedekah, Sang Kyai mengajak hadirin untuk bersedekah. Lelaki yang membawa vespa itu ingin bersedekah juga, tetapi uangnya tinggal seribu rupiah. Uan g segitu, di zaman itu, hanya cukup untuk membeli bensin setengah liter.

Syetan mulai membisikkan ketakutan kepada lelaki itu, “Itu uang buat beli bensin. Kalo kamu pakai sedekah, kamu tidak bisa beli bensin. Motormu mogok, kamu mendorong. Malu. Capek.”

Sempat ragu sesaat, namun lelaki itu kemudian menyempurnakan niatnya. “Uang ini sudah terlanjur tercabut, masa dimasukkan lagi? Kalaupun harus mendorong motor, tidak masalah!”

Pengajian selesai. Lelaki itu pun pulang. Di tengah jalan, sekitar 200 meter dari tempat pengajian vespanya berhenti. Bensin benar-benar habis.

“Nah, benar kan. Kalo kamu tadi tidak sedekah, kamu bisa beli bensin dan tidak perlu mendorong motor,” syetan kembali menggoda, kali ini supaya pelaku sedekah menyesali perbuatannya.

Tapi subhanallah, orang ini hebat. “Mungkin emang sudah waktunya ndorong.” Meski demikian, matanya berkaca-kaca, “Enggak enak jadi orang susah, baru sedekah seribu saja sudah dorong motor.”

Baru sepuluh langkah ia mendorong motor, tiba-tiba sebuah mobil kijang berhenti setelah mendahuluinya. Kijang itu kemudian mundur.

“Kenapa, Mas, motornya didorong?” tanya pengemudi Kijang, yang ternyata teman lamanya.
“Bensinnya habis,” jawab lelaki itu.
“Yo wis, minggir saja. Vespanya diparkir. Ayo ikut aku, kita beli bensin.”

Sesampainya di pom bensin, temannya membeli air minum botol. Setelah airnya diminum, botolnya diisi bensin. Satu liter. Subhanallah, sedekah lelaki itu kini dikembalikan Allah dua kali lipat.

“Kamu beruntung ya” kata sang teman kepada lelaki itu, begitu keduanya kembali naik Kijang.
“Untung apaan?”
“Kita menikah di tahun yang sama, tapi sampeyan sudah punya 3 anak, saya belum”
“Saya pikir situ yang untung. Situ punya Kijang, saya Cuma punya vespa”
“Hmm.. mau, anak ditukar Kijang?”
Mereka kan ngobrol banyak, tentang kesusahan masing-masing. Rupanya, sang teman lama itu simpati dengan kondisi si pemilik vespa.

Begitu sampai… “Mas, sayang enggak turun ya,” kata pemiliki Kijang. Lalu ia menerogoh kantongnya mengeluarkan sebuah amplop.

“Mas, titip ya, bilang ke istrimu, doakan kami supaya punya anak seperti sampeyan. Jangan dilihat di sini isinya, saya juga belum tahu isinya berapa,” bonus dari perusahaan itu memang belum dibukanya.

Sesampainya di rumah. Betapa terkejutnya lelaki pemilik Vespa itu. Amplop pemberian temannya itu isinya satu juta rupiah. Seribu kali lipat dari sedekah yang baru saja dikeluarkannya.

Sungguh benar firman Allah, “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karuniaNya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Baqarah : 261).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِى الْجَنَّةِ هكَذَا » وأشار بالسبابة والوسطى وفرج بينهما شيئاً

“Aku dan orang yang menanggung anak yatim (kedudukannya) di surga seperti ini”, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta agak merenggangkan keduanya. HR al-Bukhari (no. 4998 dan 5659).

 

=========================

SUDAHkah GABUNG & ngeLIKE Page Yayasan Az-Zahra ini [KLIK >> https://www.facebook.com/Yayasan.Azzahra] ??

=========================

 

MEMULIAKAN ANAK YATIM

15 Jun

Siang itu, di salah satu sudut Kota Madinah, sejumlah anak sedang asyik bermain. Semuanya mengenakan pakaian baru dan sangat gembira. Hari itu bertepatan dengan Idul Fitri. Di belakangnya, seorang anak tampak bersedih.

 

Seorang lelaki dengan penuh saksama memerhatikan mereka, tak terkecuali anak yang bersedih itu. Lelaki ini pun mendekatinya, kemudian bertanya, “Wahai Nak, mengapa engkau tak bermain seperti teman-temanmu yang lainnya?”

 

Dengan berurai air mata, ia menjawab, “Wahai tuan, saya sangat sedih. Teman-teman saya gembira memakai pakaian baru, dan saya tak punya siapa-siapa untuk membeli pakaian baru.”

 

Lelaki ini kembali bertanya, “Kemanakah orang tuamu?”

 

Anak kecil ini menuturkan ayahnya telah syahid karena ikut berperang bersama Rasulullah. Sedangkan ibunya menikah lagi, sedangkan semua harta ayahnya dibawa serta, dan ayah tirinya telah mengusirnya dari rumah.

 

Lelaki ini pun kemudian memeluk dan membelainya. “Wahai Nak, mau engkau kalau saya menjadi ayahmu, Aisyah sebagai ibumu, dan Fatimah jadi saudarimu?”

 

Anak kecil itu pun tampak sangat gembira. Lelaki itu lalu membawa anak itu ke rumahnya, dan memberikan pakaian yang layak untuknya.

 

Beberapa saat kemudian, anak itu kembali menemui teman-temannya. Ia tampak sangat bahagia dengan pakaian yang lebih baru. Menyaksikan hal itu, teman-teman sebaya heran dan bertanya-tanya. “Kemarin aku lapar, haus, dan yatim. Tetapi sekarang aku bahagia, karena Rasulullah menjadi ayahku. Aisyah ibuku, Ali adalah pamanku dan Fatimah saudariku. Bagaimana aku tak bahagia,” ujarnya.

 

Setelah mendengarkan perubahan itu, giliran teman-temannya yang bersedih. Mereka iri dengan anak itu, karena kini lelaki yang membawanya telah menjadi orang tua asuhnya yang tak lain adalah Rasulullah SAW.

 

Ketika Rasulullah wafat, anak itu kembali menangis dan bersimpuh di atas pusara Rasulullah dengan berlinang air mata. “Ya Allah, hari ini aku menjadi yatim yang sebenarnya. Ayahku yang sangat mencintaiku sudah tiada. Apakah aku harus hidup sebatangkara lagi?”

 

Mendengar hal itu, Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq menghampirinya sambil membujuk dan memeluknya. “Akulah yang akan menjadi pengganti ayahmu yang sudah tiada.” (Diriwayatkan oleh Anas bin Malik).

 

Kisah ini memberikan pelajaran bahwa menyantuni, memelihara, dan mengasuh anak yatim merupakan tanggung jawab kita semua. Kita berkewajiban untuk memberinya makanan, pakaian, dan tempat tinggal yang layak, serta pendidikan yang memadai hingga mereka dewasa.

 

Rasulullah adalah teladan umat manusia. Beliau sangat mengasihi dan menyayangi anak-anak yatim. Dalam salah satu sabdanya, Rasul menjelaskan, bahwa kedudukan orang yang memuliakan, menyantuni dan mengasihi anak yatim, akan mendapatkan surga yang jaraknya bagaikan jari telunjuk dan jari tengah.

 

Rasulullah sangat membenci orang-orang yang menelantarkan anak yatim. Dalam Al-Quran, Allah mengecam orang-orang yang suka menghardik anak yatim, dan enggan memberi makan fakir miskin. Allah menyebut mereka itu sebagai pendusta agama. (QS. al-Ma’un [107]: 1-7)…

ANAK YATIM YANG MEMBERKAHI

14 Jun

Bukanlah kebetulan jika Muhammad SAW lahir dalam keadaan yatim, sebab keyatimannya merupakan salah satu tanda kenabian. Justru dengan kondisi yatim tersebut terkandung berbagai maksud dan hikmah yang terdapat di dalamnya. Para ahli sirah nabawiyah mengungkapkan beberapa maksud dan hikmah keyatiman Muhammad SAW, di antaranya:

 

Pertama, agar Muhammad memiliki kaitan langsung dengan Allah SWT sebagai pencipta. Dialah yang mendidik, melindungi, mengajar dan mempengaruhi Muhammad secara langsung, berbeda dengan manusia pada umumnya yang keberagamaan dan kehidupannya dipengaruhi oleh kedua orang tua dan lingkungannya.

 

Allah SWT berfirman : “Bukanlah Dia (Allah) mendapatimu sebagai anak yatim, lalu Dia melindungi(mu). Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk. Dan Dia mendapatimu sebagai orang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan.” (QS. Ad-Duha : 6-8).

 

Kedua, agar Muhammad SAW mengalami langsung kehidupan sebagai anak yatim dalam suka maupun duka, sehingga pada saat Allah memerintahkan santunan kepada ayat yatim, beliau memiliki pengalaman dan tahu betul apa serta bagaimana susahnya menjadi anak yatim tanpa harus bertanya pada pengalaman pihak lain. Allah SWT berfirman : “Maka terhadap anak yatim, janganlah engkau berlaku sewenang-wenang.” (QS. Ad-Duha : 9)

 

Ketiga, agar Muhammad SAW memiliki pengalaman sebagai orang miskin, sebab keyatiman identik dengan kemiskinan jika kedua orang tuanya tidak memiliki banyak harta warisan. Dengan demikian beliau juga menjadi orang pertama yang mengasihi kaum fakir miskin pada saat Allah SWT memerintahkan untuk mengasihi kaum fakir miskin.

 

Allah SWT berfirman: “Dan kepada orang yang meminta-minta, janganlah engkau menghardik(nya).” (QS. Ad-Duha : 10).

 

Keempat, agar Muhammad SAW menjadi contoh ideal bagi semua anak manusia yang dilahirkan dalam keadaan yatim, yaitu seorang anak yatim yang memberkahi, mencukupkan diri dengan keterbatasannya, tidak nakal atau mengambil hak orang lain, serta menjadi rahmat bagi manusia di sekelilingnya.

 

Lihatlah bagaimana Muhammad SAW menjadi pribadi yang memberkahi bagi kehidupan ibu yang menyusuinya, Halimah Al-Sa’diyah dengan menggembala kambing dan membantunya pada saat ibunya tersebut mengalami masa paceklik. Lihat lah pula betapa anak yatim ini mampu menempatkan diri dengan baik di rumah pamannya yang miskin dengan tidak mengambil hak sedikit pun dari anak-anak pamannya.

 

Kelima, agar Muhammad menjadi profil yang menarik sebagai motivator bagi kehidupan anak-anak yatim, yaitu seorang anak yatim atau yatim piatu tidak harus cengeng dan terpuruk serta menjadi alasan pembenaran untuk tidak mendapatkan akses dalam banyak hal. Sebaliknya dari kondisi yang lemah itulah beliau bangkit dengan ikut berdagang bersama pamannya, membantu kehidupan pamannya, kemudian menjadi manager yang jujur, menjadi owner yang penuh kasih, menjadi investor yang cerdas, lalu dai konsisten sepanjang zaman.

 

Tidak tercatat dalam kitab-kitab sirah berapa banyak kekayaan Muhammad SAW, namun jika dilihat dari mahar yang diberikan kepada Khadijah dengan 20 ekor unta muda dan 12 gram emas pada saat itu, sudah terlihat betapa beliau menjadi pribadi yang sukses dalam berdagang dan pernah mengalami hidup kaya raya.

 

Kekayaan beliau melimpah pada saat berada di Madinah dalam bentuk Fa’i (harta ingkar perdamaian), Al-Shafi (harta pilihan sebelum Ghanimah dibagi), Al-Sahm (bagian di luar 1/5 yang menjadi hak rasul) dan hadiah. Namun, beliau tetap dermawan dan hidup bersahaja, sampai-sampai seorang lelaki musyrik yang meminta kekayaan kepadanya menyeru kepada kaumnya dengan mengatakan : “Masuk Islamlah kalian, sebab Muhammad jika memberi sesuatu tidak takut miskin.”

 

Demikianlah seharusnya kondisi yatim tidak menjadi alasan terbatasnya akses pendidikan, pemicu kemalasan, kerendahan diri, dan keterpurukan dalam kemiskinan, melainkan sebaliknya harus menjadi motivasi dalam meraih kehidupan yang lebih baik dengan tetap menekankan sikap jujur, amanah, dan memfungsikan kecerdasan akal serta pendekatan diri kepada Allah SWT. Sebab, hanya dengan cara itu anak-anak yatim yang ada di sekitar kita dapat menjadi anak yatim yang memberkahi sebagaimana pribadi Rasulullah SAW.